We are Blessed

2 Apr

We are Blessed

Hasil kedua test pack saya positif, meskipun memang direncanakan, tapi masih bingung sih perasaaan. Terimakasih Ya Allah, Ya Ghaniy Yang Maha Kaya, Ya Mughniy Yang Maha Mengkayakan, kami masih dipercaya diberi rezeki anak lagi :D .

Waktu sebulan setelah lepas kb bulan November 2011 sih masih ngareeep banget langsung hamil, tapi setelah lewat Desember, Januari, Februari, Maret masih dapet haid terus, yaaah…udah deh pasrah aja… Kadang ngerasa, kayanya kita belum layak dipercaya nambah anak, belum cukup baik sebagai orang tua.

Alhamdulillahnya tuh..dikasihnya pas saya udah belajar lebih sabar pada anak-anak, dibanding beberapa bulan lalu waktu beban kerja saya masih menggila dan saya masih bekerja di bidang yang lama, emosi saya masih meledak-ledak. Masih sumbu pendek n sering ngajak orang berantem, haahaahaa… Mana waktu itu nggak punya pembantu lagi. Kebayang..

Alhamdulillah dikasihnya sekarang, setelah bisa ngehandle pekerjaan rumah sendiri, setelah kondisi keuangan sedikit membaik, setelah udah ada sinyal bahwa suami akan kembali tugas disini, saya juga udah pindah ke bagian baru yang lebih nyaman, jadi emosi udah lebih stabil, insyaAllahlebih siap juga.

Doa nya nggak mau terlalu muluk-muluk ah, Semoga menjadi anak yang sholeh, sehat, sabar, selamat dunia dan akhirat, dan panjang umur. Semoga Saya, Ayahnya, Kakang dan Aa juga lebih siap. Amiin

The first time I said “Love you Neeek..”

14 Mar

Meskipun udah hampir sembilan tahun kami nggak tinggal bersama, tapi saya selalu merasa dekat dengan Mama… dimana pun beliau berada. Mau lagi di Bandung, Bekasi, nggak tau ya, hanya saja she seems so reachable.

Malam ini, ada perasaaan baru ( belum teridentifikasi, baru berasa aneh aja ) yang muncul di perut waktu dengan Mama pamit, mau boarding. Beliau akan ada di dalam pesawat dari tengah malam ini, hingga kurang lebih jam 12 siangnya.

Lucunya Mama tuh ya, hahahahaha… Ceritanya sih mau berkunjung ke negeri empat musim, tapi kelengkapannya dooong, sammma kaya mau travelling lintas pantura sama saya dulu, bawa…koyo buat di udel, biar gak mabok katanya…Hahahahaha…

Sudah lama saya tau maret ini Mama mau nengok adik yang wisuda di Rotterdam, tapi di hari – H nya, wah ternyata aneh juga yah rasanya. Kayaaaa…apppa ya, campur aduk antara khawatir, mendadak kangen, banyak berharap akan keselamatannya, dan …sedih ( bukan karena gak diajak lho ya :P ). Serius, sedih…karena ngerasa she will temporarily be unreachable, padahal sebelumnya kan she’s so reachable… :(

Mungkin ini yang orangtua saya rasain waktu saya dan suami bawa anak-anak Backpacking ke Malaysia, Singapura, Macau dan Hongkong, dengan kondisi handphone yang gak bisa ditelefon, salah beli, dasar, malah beli sim card modem! Abis…pake bahasa cina .. ( oops, my bad ). Pasti mereka yang merasa biasa nya mudah menghubungi dan mengunjungi kami, saat tiba-tiba merasa kami so unreachable…ya pasti ngerasa sedih, panik, …ya khawatir…

Banyak kata dan doa yang terucap dari hati dan bibir saya, tapi yang paling bergetar adalah waktu saya bilang “Love you Neeek..”. Said that thousands of thousands of times to my hubby, said that many times to my boys, but this will be the first time I said it sincerely to my own mother.

Sorry that I didn’t say it as many times as I should, but you do know how I felt for you, don’t you Mother :) Hwaaa……aaaaaa.. :’((

-sentimental me-

Tags: ,

Don’t let it get in your way

23 Jan

You know what? To be honest… When I was graduated, nine years ago, I didn’t expect too much from An architect working field.

I think ‘working’ has a lot to do with passion, or at least it should be. Maybe, as a little girl, I dreamt of designing a cool and edgy house. But in the real world, a little girl’s dream is not enough to make me good architecture student. I don’t do well both in sketching n building physic logic. I graduated, thank You for your blessing Allah.. Am I an Architect just because I went to an architect school? Not quite I guess… I just don’t feel thar I deserve to be called “Architect”.

But still, I’m thankful that I went to architecture school. It does a lot for my proffesional role right now.

In the end of my uni years, I found my real passion. It differs me from other architecture student who aim to create cool and edgy houses or buildings. I fell in love with ‘housing for the poor’. I felt that I have to do something about it. If every architecture graduate is dealing with ‘housing for the rich’…who’ll be dealing with ‘housing for the poor’ who has a bigger and more urgent need for a decent house?

There was one book that makes me fell more with this, it was Darwis Khudori’s book that were sold by a friend in the end of my academic years. It’s all about slum upgrading that was done by Romo Mangun. I was so mesmerized by Romo Mangun’s effort to upgrade the quality of Kali Code Slum Settlement in Yogyakarta.

After reading the book I keep on wondering “which slum upgrading concept is the right one for each case?”

Before I was working, every concept seem to be easy. But after I started working with slum upgrading everything seems to be more complicated than just having a good deeds.

It turns out that our good deeds have to be complemented with ability to empower people. The most important ability is to be calm, focus, persistent and patient, which was my weakness all this time. I’m random, spontaneous, easily distracted, and a bit emotional.

My emotion gave me a hardest challenge. I often feel angry and disatisfied with my working situation that mostly deal with beaurocracy, procedure, people who don’t say everything explisitely, materialistic people who think that working is all about making money.

It’s not that I don’t need money for living. I’m no saint. It’s just, I don’t think money is everything.

As I said, working has a lot to do wirh passion. Without my strong passion for ‘housing for the poor’, slum upgrading, and empowerment, I won’t still be working here.

My promise to myself is…I won’t let cruel people with harsh mouth get in my way to fulfill my passion in working. Let them bark, or even threath me. There’s no reason to be affraid of other human being… And from my inner self, I hope my emotion don’t get in my way too 

20120123-093621.jpg

No maid, no problem? Ya rite…

10 Jan

Ga punya pembantu lagi daaaan lagi, mereka keluar masuk lagi daaaan lagi… Semua kaya iklan di tv yang udah ketebak, diulang-ulang, bikin bosen…tapi teuuuteeeup aja kejadian terus. Suka siriiik deh sama keluarga-keluarga yang punya pembantu sampe puluhan tahun…apalagi kalo keluarga majikannya nggak memperlakukan para pembantu itu dengan baik, ramah, manusiawi.. Kok mau-mau nya ya? Sementara saya sendiri perasaan cukup baik, ramah, dan manusiawi, bahkan kadang terlalu gampang jatuh sayang sama pembantu. Tapi apa cobq yang mereka bilang tentang saya waktu mau keluar kerja : “Ibu sih baek… Tapi saya sih kalau mau keluar ya keluar aja bu, kalau majikannya baik gampang saya keluarnya, kalau majikan galak susah keluarnya bu…” Eeeeuuuh, gemes nggak sih, saya baek kok malah bikin mereka seenaknya keluar masuk, apa berarti saya harus galak, begitu?

Heu..lumayan capek juga saya dibuatnya. Ya capek hati..kadang capek badan juga. Banyakan sih cape hati, terutama karena kita susah dapat pembantu yang baik, jujur, sabar, kuat, buat kita percayain urusan rumah beserta isinya… sekalinya dapet eeeh, memperlakukan kita seenak-enaknya.

Selama nggak ada pembantu, soal capek badan nggak terlalu berasa sih, ya kalau capek nggak usah dikerjain, masih ada hari esok ini. Lagian, urusan bebersih rumah, masak, dll, ada atau nggak ada pembantu beres-beres aja sih kan namanya juga ibu-ibu rumah tangga ya itu bagian dari job description nya… Apalagi selama hampir sebulan kemarin anak-anak kan libur sekolah, ayahnya juga  ….jadi, selain anak2 fleksibel, bisa ikut saya ngantor atau nginap di sepupu mereka, beban pekerjaan rumah pun terasa lebih ringan karena dikerjakan oleh empat tangan dan dipikirkan oleh dua kepala. Tapi di saat anak-anak sudah kembali masuk sekolah begini lho baru kerasa masalah sesungguhnya dari ketiadaan pembantu, kalau mereka pulang sekolah, siapa yang nerima mereka di rumah???

Mending kalau kaya anak-anak bos saya yang sudah SMP dan SMA, ibunya ngantor dan nggak ada pembantu pun, bisa lah keluar masuk rumah sendiri. Lha ini, anak-anak saya baru TK besar dan kelas 2 SD, nggak tega juga saya masrahin mereka sendirian pulang sekolah, buka kunci sendiri, nyari makanan sendiri, jaga rumah…

Hari pertama anak-anak masuk sekolah setelah liburan semester dan libur tahun baru pun tiba. Ayah sudah kembali ke timur pulau Jawa untuk bekerja. Pembantu – pembantu yang saya pesan dari berbagai channel di berbagai tempat belum kunjung datang, atau mengabari. Alhamdulillah si kecil yang pulang jam 12 siang mau disuruh menunggu kakaknya yang bubar jam 2 siang. Alhamdulillah juga di kantor proyek-proyek pembangunan belum ada yang mulai sampai bulan april nanti, paling sibuk persiapannya sekarang sih. Alhamdulillah saya dapat ijin jemput anak atau nungguin anak datang dengan jemputan sekolah mereka jam setengah 3 sore. Alhamdulillah waktu tempuh kantor – sekolah anak atau kantor – rumah nggak lama, paling cepat 10 menit, kalau padat bisa setengah sampai tiga perempat jam, jadi setelah anak- anak sudah bersama saya, mau ke kantor lagi juga nggak terlalu merepotkan.

Kesimpulan, juggling anak-kantor-kerjaan rumah InsyaAllah bisa lah ya tanpa pembantu. Anggep aja lagi di luar negeri…yuuuk marreee. Asal siap dengan strategi penghemat waktu, kaya nyiapin makanan matang di kulkas, atau baham makanan minim pengolahan kaya bahan salad, satu masalah terselesaikan. Atau hanya nyetrika baju pergi / sekolah aja. Tapi kalau pesenan-pesenan kue sudah mulai jalan dan permintaan kantin-kantin sekolah untuk kembali berjualan sudah datang, ini nggak mungkin banget nih survive tanpa pembantu.

Please wish me luck..

20120110-195446.jpg

Mengakui sebelum memperbaiki….

3 Oct

Suka nonton “My Strange Addiction” ? My Strange Addiction tells the compelling stories of people who are battling obsessive behaviors on the verge of taking over their lives. They reveal their strange addictions and meet with psychological experts (http://tlc.howstuffworks.com/tv/my-strange-addiction). Kadang dia tayang di TLC atau FOX gitu. I love the show n watch it religiously…back to back.. :p

Di acara ini, banyak kasus kecanduan nggak umum. Ada yang kecanduan tidur ditemani hair dryer yang nyala, ada yang kecanduan nyabutin rambut, ngemut jempol, makan deterjen, makan tissue, makan gelas, gila body building, nyandu beli sepatu…macem-macem.

Semua kasus di mulai dengan ekspos perilaku kecanduan, konsultasi dengan terapis, konsultasi, ngaku punya kecanduan, dan beberapa berujung komitmen perubahan ke arah yang baik.

I believe when we watch something, a movie, a show, anything, we should be able to learn something or take something good from it, and avoid things that we learned from it. Even tho I don’t have any addiction ( thank God ), tapi saya belajar banyak dari nonton acara ini. Bikin saya banyak berfikir, merefleksikan diri dan mengambil hikmahnya. Terutama saat mengingat kegagalan diet-diet saya selama ini dan saat mempertanyakan alasannya.

Ada hikmah dari acara ini yang bisa saya ambil dan implementasikan ke kehidupan saya, terutama berkaitan dengan kegagalan diet saya. Meski saya ga punya kecanduan yang parah, tapi saya punya dong kekurangan yang harus dirubah.. yaitu ngemil.

Dari acara itu saya mengambil hikmah bahwa hal tersulit dalam merubah setiap kebiasaaan buruk adalah MENGAKUINYA. Ya toh? Ini yang menurut saya paling menarik dari acara ini. Menarik banget bisa ngeliat para pecandu ngakuin kecanduannya. Itu tuh penting bangeeet, fundamental dalam suatu perubahan. Banyak masalah dalam banyak perselisihan keluarga, gejala gangguan jiwa, adalah besarnya ego dan kesombongan seseorang..yang menghalangi mereka untuk mengakui kelemahannya. Dan itu tuh susssah… Isn’t denying easier than admitting our weakness? You will not moving anywhere if you dont start admitting your weakness, and believing your own power to change.

As for me, I keep on failing at the same test, cause I just keep on denying my weakness, and do nothing to change. Selama ini, I will seriously get mad and call them rude if anyone say that they don’t see me stop nibbling, or they have seen me eat a few times. I was like ” Mind your own business” or “What a rude person”. Setelah dipikir-pikir…hey…the problem not lies in their rudeness …the problem lies in me. It’s my weakness that drag me to the same failure times and times again. I have to stop denying, and start admitting that I have a weakness.

Yes, it’s hard to admit my weakness of constant cravings n mindless nibbling. Serius, perasaaan suka kaya lapaaar terus, dan kalo pun saya kenyang, saya bisa terus menerus ngemil, dan ngunyah, kadang tanpa sadar. Ya..ngunyah apa pun yang ada di depan mata. Awalnya saya kira karena makanan ada di depan saya dan saya nggak punya pilihan selain ngambil-ngunyah-ngambil-ngunyah, until it dissapear from my view. Tapi ternyata, kalo nggak ada di depan mata pun, saya akan nyari, atau lebih parah…bikin. Daaaan…kembali jatuh ke jurang yang sama. Sampai saya selalu gagal diet. Kalau pun turun, nggak akan bertahan lama, out from my comfort zone of dieting, saya langsung kalap lagi..dan lagi…dan lagi..

Sampai saya kewalahan beli carbohydrate block dan fat block, yang harganya lumayan bikin manyun. Demi menanggulangi efek ngemil yang bertentangan dengan cita-cita diet. Dan hasilnya, diet jadi mahal banget buat saya, sampe saya punya kesimpulan, kalo punya duit saya kurusan, kalo nggak punya duit saya gendutan. And I know it shouldn’t be like that..

My turning point was my graduation day, last week. God.. I look big in this, I look big in that, I look big in almost everything!! Padahal udah diet, udah olahraga… Sekarang, saya lagi nyoba nyadarin diri, dan ngakuin, bahwa kelemahan saya adalah ngemil, dan saya harus mulai pegang kendali. Bukannya membiarkan makanan mengendalikan saya. Sebagai upaya mengendalikan ngemil, saya nyoba nginget-nginget nasehat dokter gizi dan fitness guru saya jaman saya diet pre-wed dulu. Meskipun saat ini goal diet saya bukannya ngurangin 20-30 kg kaya dulu lagi, tapi saya yakin tanpa nginget nasehat-nasehat mereka, saya ga akan mungkin mencapai goal saat ini buat ngurangin 5-10 kg.

Kadang dalam diet, suka ada godaan buat nggak makan sama sekali. Tapi kata dokter gizi saya, makan itu nggak dilarang, yang penting pilih jenis dan waktu makan. Makan berat harus dengan komposisi gizi yang lengkap, tapi kuantitas nya terkendali, waktunya jam 7 pagi, jam 12 siang, dan 7 malam. Jam 9 pagi dan jam 3 sore ngemil buah dan kacang2an, lagi-lagi dengan jumlah yang terkendali. Jadi total dalam 1 hari kita bisa 5-6 kali makan, tapi bukan makan berat semua, melainkan 3 kali makan berat dan 2-3 kali selingan sehat.

Nasehat itu sejalan sama nasehat fitness guru online saya. Katanya makan sehari 5-6 kali, and it should be lean, fat free, high carb, high ini protein. Katanya juga, diet sehat harus didukung olahraga fat burning yang baik, yaitu latihan kardio dengan heart rate fat burning ( bukan lari yang terlalu cepat ) sebelum makan pagi minimal 30 menit. Ditambah latihan angkat beban sore hari yang dilanjutin latihan kardio 20-40 menit, and have a rest day once or twice a week. Selain itu selalu siap whey protein buat dikonsumsi setelah latihan. Ternyata bener loh, ga se kalap dulu lagi…

So far, I haven’t see any monumental result yet… But I believe I will, cause now.. I think I’m on the right track. Semoga saya istikomah, bismillah…

Tags: , ,

Yang bener : Ijin dulu apa praktek dulu yak?

3 Oct

Call me stupid but I question this almost everyday… Soalnya emang bingung. Dulu waktu saya baru mau mulai usaha dagang kue, dan nyuplai snack box-nasi box buat rapat di kantor, dan berusaha mengupayakan perijinan ( SIUP, NPWP, HO, TDP, dll )..katanya entar aja kalo udah gede usahanya.

Nah, sekarang, meskipun menurut saya usahanya belum gede….tapi mulai kerasa perlunya ijin. Terutama di beberapa instansi yang membutuhkan bukti perijinan itu, sering kerasa kehambat nyuplai kue. Trus ditanya, kenapa ga dari dulu ngurus ijin.

Jiaaaah….gemmmana sih, katanya entar aja kalo uda gede usahanya. Apa ini indikator usaha saya udah gede ya? Ah dipikir-pikir nggak juga, pembukuan belom ada, pegawai masih 3, aset gitu-gitu aja kok….

But anyway, kemaren udah nanya-nanya sama temen-temen yang mensyaratkan saya untuk punya NPWPD kalo mau nyuplai kue di instansi mereka: Bikin NPWPD dimana sih? Oh, katanya di Dispenda. Setelah nanya ke temen yang di Dispenda, katanya saya mesti ngelengkapin SIUP dan HO dulu dari Deperindag. Daaaan….nama nya katanya ga boleh pegawai negri, atau suami istrinya… Pinjem nama siapa gitu…

Well, kalo gituh..let’s just do it…dari pada kebanyakan bingung dan nanya trus tapi ga mulai-mulai :p

Hehe…

Tags: , ,

Rumah tukang kue VS Home visit

9 Jun

Rumah kami memiliki dua fungsi, sebagai rumah tempat tinggal kami sekeluarga sekaligus tempat produksi kue saya.

Rumah ini kami pilih karena bentuk lokasinya yang relatif dekat ke sekolah anak-anak, dan waktu nemu rumah ini, it felt like love at first sight. Gimana nggak love at first sight, setelah capek keliling nyari rumah tapi nggak nemu yang sreg -ya kurang ini lah, ya harus ngerenov atau ngerombak lah, atau lingkungannya kesempitan atau keramean lah- pas nemu rumah ini, dalam hati saya berkata ” I want this house!” Soalnya dibanding rumah-rumah lain yang saya liat, rumah ini tampak ready to use, rapiiiih banget, gak usah pake di rombak-rombak atau di renov-renov segala. Mana dapet bonus 3 AC, plus meja dan kursi makan lagi… Tapi yang paling berkesan sih ya apik si pemilik terdahulu dalam merawat rumah ini sehingga rumah ini tampak dan rapih ( Rapih versi saya lho ya, bukan versi mama saya. Kalau buat mama sih, heuheu..masih banyak ‘bereseun’ dan ‘benereun’ alias banyak yang harus didandanin ).

Nggak kerasa kami sudah hampir satu setengah tahun menempati rumah rapih ini. Tapi rapihnya rumah ini berakhir waktu bulan april saya memulai usaha per kueh-an. Kebayang kan, rumah tinggal yang ngerangkep jadi rumah tinggal dan tempat produksi kue nggak mungkin selalu serapih rumah yang hanya berperan sebagai rumah tempat tinggal saja. Bisa sih mungkin, kalau diberesin sama orang banyak ( not me i hope ) atau beresinnya ya pake ‘magic wand’:p .

Sekalinya ada pesenan, tiap hari sibuk nyicil bikin kue-kue yang bisa dicicil. Sedibersihin-bersihinnya juga, sedipel-pelin nya juga, teuteuuuup ajjja, masih kerasa kaya nginjek terigu di lantai sebelah sini, atau kecium bau amis telor di pojok sebelah situ. Belum lagi stok bahan yang nggak punya storage biasanya saya masuk-masukkin ke kardus dan saya susun di dapur. Berhubung dapur kami keliataaan banget dari ruang tamu (maklum ya, rumahnya nggak gede-gede amat), jadi kalau nerima tamu tuh rasanya kaya maluuuu banget.

Udah mah saya tuh malu nerima tamu, eh hari selasa minggu lalu dapet tawaran Bu Guru untuk nerima home visit dari temen-temen sekelas nya Aa. Wadow, soal nyuguhin, ngedongeng, dll, sih nggak apa-apa, tapi untuk bikin rumah yang udah terlanjur berantakan, berterigu dan bau bahan kue disana sini, untuk kembali rapih dan ready to be visited ( tanpa harus malu ), adalah suatu hil yang mustahal.

Seperti biasa, my guardian angel, Mama, jadi supplier solusi. ‘Pinjem karpet dan mangkok-mangkok buat nyuguhin baso ya Teh’ perintah Mama ke saya. “Hari ini jangan nyuci ya Nok, Yan, Bi..( pembantu saya ), biar nggak ada jemuran paburanteng ( bahasa sunda, artinya kurang lebih malang melintang ) di depan rumah.” Nok, Yani dan Bibi pun mengangguk. Ya iyalah, perintahnya enak amat, disuruh nggak nyuci gitu lo.. Dan banyak lagi instruksi Mama pada kami. Terutama instruksi yang bertujuan untuk menghilangkan potensi rumah jadi tampak berantakan, daaaan terutama… untuk menghilangkan jejak masak-memasak akibat pesanan snack box rapat di dua lokasi hari senin itu.

Dan, the moment of truth pun tiba… Saatnya jemput anak-anak sekelas Aa, plus Bu Guru juga. Di jalan mereka sibuk ngobrol, nyanyi, dan sesekali diselingi hafalan doa.

Sesampainya di rumah, alhamdulillah, sudah rapih. ( Not me, I didn’t do it :p ). Nggak malu-maluin banget nih buat nerima tamu, meskipun tamunya just a bunch of toddlers.

Di rumah, mereka berdoa, makan, minum, ngobrol, becanda, dengar cerita dan maen… Yaa, maen apa aja, dari mulai yang memang untuk dimaenin, sampe yang bukan maenan pun dimaenin. Dasar bocah…

All went well. And all I can say is, fyuuuuh….

Tags: ,

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 164 other followers